Federasi Mountaineering Indonesia (FMI) memperingati Dies Natalis ke-21 sebagai momentum untuk memperkuat peran mountaineering dalam pengembangan olahraga masyarakat sekaligus mendorong pertumbuhan industri olahraga di Indonesia.

The Indonesian Mountaineering Federation (FMI) marked its 21st Dies Natalis as a moment to strengthen the role of mountaineering in developing community sport while encouraging the growth of Indonesia's sports industry.

Dalam rangkaian kegiatan tersebut, Usman Ali Mustofa, S.Or., M.Pd., Pelaksana Tugas (Plt.) Asisten Deputi Sentra Pembinaan Olahragawan Muda Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora), menyampaikan pandangannya mengenai potensi besar mountaineering dalam ekosistem olahraga nasional.

During the event series, Usman Ali Mustofa, S.Or., M.Pd., Acting Deputy Assistant for the Young Athlete Development Centre at the Ministry of Youth and Sports (Kemenpora), shared his views on the great potential of mountaineering within the national sports ecosystem.

Usman menjelaskan bahwa pembangunan keolahragaan nasional mencakup tiga ruang lingkup utama, yaitu olahraga pendidikan, olahraga masyarakat, dan olahraga prestasi. Ketiganya memiliki tujuan berbeda, namun dapat saling mendukung. Menurutnya, FMI memiliki kedekatan yang kuat dengan olahraga masyarakat: kegiatan mountaineering dan pendakian gunung tidak hanya bermanfaat bagi kesehatan dan kebugaran, tetapi juga berpeluang dikembangkan menjadi bagian dari industri olahraga.

Usman explained that national sports development covers three main scopes: educational sport, community sport, and achievement sport. Each has different goals, yet they can support one another. In his view, FMI is closely tied to community sport: mountaineering and climbing activities not only benefit health and fitness, but also have the potential to grow into part of the sports industry.

Ia mencontohkan perkembangan olahraga lari yang telah menjadi ekosistem ekonomi. Kegiatan lari dari jarak 2,5 kilometer hingga maraton menggerakkan berbagai sektor pendukung: peserta membayar biaya pendaftaran, lalu membutuhkan transportasi, akomodasi, perlengkapan olahraga, dan konsumsi. “Olahraga itu bukan hanya menghabiskan uang, tetapi juga menghasilkan uang,” ungkapnya.

He cited the growth of running as an economic ecosystem. Races from 2.5 kilometres to full marathons mobilise various supporting sectors: participants pay entry fees, then need transport, accommodation, sports equipment, and food. “Sport does not only spend money, it also generates money,” he said.

Menurut Usman, pendekatan serupa dapat dikembangkan dalam kegiatan mountaineering. FMI dapat menghadirkan kegiatan pendakian dan olahraga alam terbuka yang dikelola secara profesional, aman, dan terukur, tanpa mengabaikan aspek konservasi dan kelestarian lingkungan. Pengembangan tersebut juga membutuhkan tenaga profesional yang kompeten, sehingga kolaborasi FMI dengan pemerintah, komunitas, asosiasi pendamping gunung, dan berbagai pihak dinilai penting untuk membangun ekosistem mountaineering yang semakin kuat.

According to Usman, a similar approach can be developed for mountaineering. FMI can present climbing and outdoor sports activities managed professionally, safely, and measurably, without neglecting conservation and environmental sustainability. Such development also requires competent professionals, making collaboration between FMI, the government, communities, mountain-guide associations, and other parties essential to building a stronger mountaineering ecosystem.

Usman menilai apabila berbagai potensi tersebut disatukan, FMI dapat memberikan kontribusi yang lebih besar terhadap pembangunan olahraga nasional. “Kalau kemudian berbagai potensi ini disatukan, saya kira bisa menjadi satu kekuatan untuk bagaimana FMI berkontribusi besar kepada pembangunan Indonesia,” tuturnya.

Usman believes that if these potentials are united, FMI can contribute more to national sports development. “If these potentials are combined, I think it can become a force for FMI to contribute greatly to Indonesia's development,” he said.

Momentum Dies Natalis FMI ke-21 diharapkan tidak sekadar menjadi perayaan perjalanan organisasi, tetapi juga titik awal memperkuat kontribusi mountaineering terhadap kesehatan masyarakat, pembentukan karakter, pariwisata, konservasi alam, serta pertumbuhan industri olahraga di Indonesia.

The 21st Dies Natalis is expected to be more than a celebration of the organisation's journey; it is meant to be a starting point for strengthening mountaineering's contribution to public health, character building, tourism, nature conservation, and the growth of Indonesia's sports industry.