Khansa Syahlaa, pendaki muda Indonesia, mendapat sambutan dari Federasi Mountaineering Indonesia (FMI) sekembalinya dari ekspedisi Lenin Peak, gunung setinggi 7.134 meter di atas permukaan laut (mdpl) di Pegunungan Pamir, Kyrgyzstan. Sambutan tersebut menjadi bentuk apresiasi atas perjuangan dan semangatnya membawa nama Indonesia dalam ekspedisi tersebut.

Khansa Syahlaa, a young Indonesian climber, was welcomed by the Federasi Mountaineering Indonesia (FMI) upon her return from the Lenin Peak expedition, a mountain standing 7,134 meters above sea level in the Pamir Mountains, Kyrgyzstan. The welcome was a token of appreciation for her effort and spirit in carrying Indonesia's name on the expedition.

Ekspedisi ini merupakan bagian dari rangkaian Dies Natalis ke-21 FMI yang mengusung semangat pembinaan, prestasi, dan penguatan eksistensi pendaki Indonesia di tingkat internasional. Khansa sendiri dikenal sebagai pengurus muda PB FMI yang tengah mengejar target Seven Summits, menaklukkan tujuh puncak tertinggi di tujuh benua.

The expedition was part of FMI's 21st anniversary celebrations, carrying the spirit of development, achievement, and strengthening the presence of Indonesian climbers on the international stage. Khansa is known as a young FMI board member pursuing the Seven Summits target, climbing the highest peak on each of the seven continents.

Khansa mengungkapkan, perjalanan ekspedisi berlangsung seru sekaligus penuh tantangan. Sejak hari pertama hingga hari terakhir, tim harus menghadapi badai salju, suhu ekstrem hingga minus 27 derajat Celsius, serta medan berat yang menguras kondisi fisik. Perjalanan dari Camp 1 hingga Camp 3 hampir selalu diterpa badai sehingga setiap langkah harus dilakukan dengan penuh kehati-hatian.

Khansa said the journey was thrilling and challenging from the first day to the last. The team faced snowstorms, extreme temperatures down to minus 27 degrees Celsius, and tough terrain that drained their physical condition. The route from Camp 1 to Camp 3 was almost always hit by storms, so every step had to be taken with great caution.

“Perjalanannya sangat seru, sangat-sangat menantang, dari hari pertama sampai hari terakhir. Kami terpapar salju dengan kondisi lapangan yang sangat dingin dan sangat capek,” ujar Khansa.

“The journey was very exciting, very challenging, from the first day to the last. We were exposed to snow with very cold field conditions and were very tired,” Khansa said.

Kondisi cuaca ekstrem membuat tim tidak dapat melanjutkan pendakian hingga puncak demi alasan keselamatan, meski puncak berada sekitar 700 meter lebih tinggi dari titik pencapaian tim. Khansa tetap berhasil membawa dan mengibarkan Bendera Merah Putih pada ketinggian sekitar 6.400 meter di Pegunungan Pamir, Kyrgyzstan, sebagai simbol semangat dan kebanggaan Indonesia di kancah pendakian internasional.

The extreme weather prevented the team from continuing the climb to the summit for safety reasons, even though the summit stood about 700 meters above the team's point of achievement. Khansa still managed to carry and raise the Indonesian flag at around 6,400 meters in the Pamir Mountains, Kyrgyzstan, as a symbol of Indonesia's spirit and pride in the international climbing scene.

“Kami tidak sampai di puncak dikarenakan kondisi ekstrem tersebut. Tapi kami sangat bangga untuk Indonesia, kami tetap mengibarkan Bendera Merah Putih,” ungkapnya.

“We did not reach the summit because of the extreme conditions. But we are very proud of Indonesia, we still raised the Indonesian flag,” she said.

Khansa juga menyampaikan terima kasih kepada keluarga, teman-teman, FMI, serta seluruh pihak yang telah memberikan dukungan selama ekspedisi berlangsung.

Khansa also expressed her gratitude to her family, friends, FMI, and all parties who supported her throughout the expedition.

“Saya sangat-sangat berterima kasih kepada teman-teman, keluarga, FMI, dan seluruh panitia yang sangat suportif terhadap ekspedisi kali ini,” kata Khansa.

“I am very, very grateful to friends, family, FMI, and all the committees who were very supportive of this expedition,” Khansa said.

Bagi Khansa, perjalanan tersebut bukan hanya tentang mencapai puncak, tetapi juga menjadi pengalaman berharga dalam menghadapi medan ekstrem. Keberhasilannya mengibarkan Merah Putih di ketinggian 6.400 meter menjadi bukti bahwa semangat pantang menyerah tetap berkobar meski dihadapkan pada cuaca buruk dan risiko tinggi.

For Khansa, the journey was not only about reaching the summit, but also a valuable experience in facing extreme terrain. Raising the flag at 6,400 meters proved that the spirit of perseverance stays alive even when faced with bad weather and high risk.

Meski belum berhasil mencapai puncak, semangat untuk kembali mencoba tetap ada. Khansa berharap dapat kembali mengikuti ekspedisi dan memberikan yang terbaik bagi Indonesia.

Even though she has not reached the summit, her determination to try again remains. Khansa hopes to join another expedition and give her best for Indonesia.

“Insyaallah, kami akan terus berusaha dan kembali mencoba memberikan yang terbaik untuk Indonesia. Indonesia merdeka dan jaya selalu,” pungkas Khansa Syahlaa.

“God willing, we will keep trying and give our best for Indonesia. Long live Indonesia,” Khansa Syahlaa concluded.