Dalam sepekan terakhir, dua peristiwa mengingatkan kembali bahwa mendaki gunung adalah aktivitas yang menuntut kesiapan, bukan sekadar keberanian. Satu terjadi di Bondowoso, Jawa Timur — serius dan masih berlangsung. Satu lagi terjadi di Turki — absurd, viral, dan berakhir dengan tawa. Namun keduanya menyimpan pesan yang sama, dan Federasi Mountaineering Indonesia (FMI) menegaskannya lewat kampanye keselamatan: aktivitas di alam bebas selalu menyimpan risiko, dan risiko itu hanya bisa dihadapi dengan kesiapan, pengetahuan, serta kepatuhan terhadap prosedur keselamatan.
Over the past week, two events have been a reminder that mountain climbing demands readiness, not just courage. One took place in Bondowoso, East Java — serious, and still unfolding. The other took place in Türkiye — absurd, viral, and ending in laughter. Yet both carry the same message, one the Federation of Indonesian Mountaineering (FMI) reinforces through its safety campaign: activity in the wilderness always carries risk, and that risk can only be met with readiness, knowledge, and adherence to safety procedures.
Peristiwa pertama datang dari Gunung Piramid, Bondowoso. Melalui akun resminya, FMI mengabarkan bahwa dua orang pendaki dilaporkan hilang saat melakukan pendakian pada Selasa (4/8/2026). Menindaklanjuti laporan tersebut, BPBD Bondowoso bersama Tim SAR Gabungan segera mengerahkan personel untuk melakukan operasi pencarian dan penyelamatan. Berdasarkan laporan media nasional, salah satu pendaki yang hilang adalah seorang perempuan asal Surabaya yang mendaki bersama seorang pemandu dengan niat "tektok" — istilah pendaki untuk naik dan turun gunung dalam satu hari.
The first event came from Mount Piramid, Bondowoso. Through its official account, FMI reported that two climbers were reported missing during an ascent on Tuesday (August 4, 2026). Following up on the report, the Bondowoso Regional Disaster Management Agency (BPBD) together with a joint SAR team immediately deployed personnel for a search and rescue operation. According to national media reports, one of the missing climbers was a woman from Surabaya who was climbing with a guide with the intention of doing "tektok" — climbers' term for ascending and descending a mountain within a single day.
Tim gabungan yang melibatkan Basarnas, BPBD, dan unsur lainnya menyisir jalur pendakian, termasuk jalur ekstrem yang dikenal dengan nama Punggung Naga. Kapolres setempat membentuk posko darurat untuk mempercepat koordinasi. Sebelum dilaporkan hilang, kedua pendaki sempat bertemu warga di sekitar area pendakian. Hingga berita ini diturunkan, proses pencarian masih berlangsung, dan identitas kedua pendaki belum diumumkan secara resmi oleh pihak berwenang.
The joint team, involving Basarnas, BPBD, and other elements, combed the climbing route, including an extreme section known as Punggung Naga (Dragon's Back). The local police chief set up an emergency command post to speed up coordination. Before being reported missing, the two climbers had reportedly met local residents near the climbing area. As of this report, the search is still ongoing, and the two climbers' identities have not been officially released by authorities.
Gunung Piramid sendiri bukan nama asing bagi sejarah SAR Indonesia. Pada 2019, Thoriq Rizki hilang ditelan kabut di Bukit Piramid; setahun kemudian, pendaki Multazam ditemukan tewas di gunung yang sama. Gunung itu bahkan pernah diimbau untuk tidak didaki karena belum dikelola sebagai daya tarik wisata. Kabut, medan ekstrem, dan jalur yang tidak dikenali adalah pembunuh senyap yang tidak memandang pengalaman.
Mount Piramid is no stranger to Indonesia's SAR history. In 2019, Thoriq Rizki went missing, swallowed by fog on Piramid Hill; a year later, climber Multazam was found dead on the same mountain. The mountain has even been the subject of official advisories against climbing it, since it has not been formally managed as a tourist attraction. Fog, extreme terrain, and unfamiliar trails are silent killers that show no regard for experience.
Jauh di sisi lain dunia, nasib yang jauh lebih ringan menimpa seorang pria Turki bernama Beyhan Mutlu — dan kisahnya mengajarkan pelajaran yang tak kalah penting. Pria berusia 50 tahun asal İnegöl, Provinsi Bursa, dilaporkan hilang setelah berjalan menjauh dari teman-temannya di kawasan hutan. Tanpa sadar, ia justru bergabung dengan tim SAR dan warga yang sedang mencari dirinya sendiri.
Halfway around the world, a far lighter fate befell a Turkish man named Beyhan Mutlu — and his story carries a lesson no less important. The 50-year-old from İnegöl, Bursa Province, was reported missing after wandering away from his friends in a wooded area. Without realizing it, he ended up joining the SAR team and residents who were searching for him.
Kronologinya bermula ketika Mutlu, seorang pekerja konstruksi, minum bersama teman-temannya dan meninggalkan mereka sekitar pukul 02.00 dini hari untuk tidur di vila dekat lokasi proyek. Ketika salah satu temannya tidak menemukannya, teman itu melaporkannya hilang kepada gendarmerie. Masalahnya, Mutlu baru saja berganti ponsel — gendarmerie tidak bisa menghubunginya. Ia terbangun sekitar pukul 05.00 pagi, melihat tim SAR mencari orang hilang, dan mengira ada kecelakaan di jalan. Maka ia pun ikut membantu pencarian.
The chronology began when Mutlu, a construction worker, was drinking with his friends and left them at around 2 a.m. to sleep at a villa near the project site. When one of his friends couldn't find him, that friend reported him missing to the gendarmerie. The problem was, Mutlu had just switched phones — the gendarmerie couldn't reach him. He woke up around 5 a.m., saw a SAR team searching for a missing person, and assumed there had been a road accident. So he joined in to help with the search.
Momen lucu terjadi ketika tim memanggil namanya. "Beyhan Mutlu!" teriak tim. "Oh, itu saya!" jawab Mutlu spontan — dan baru saat itulah ia menyadari bahwa orang yang dicari tim SAR adalah dirinya sendiri. Semua orang tertawa, dan Mutlu akhirnya diantar pulang dalam keadaan selamat. Uniknya, nama belakangnya, Mutlu, justru berarti "bahagia" dalam bahasa Turki. "Pada dasarnya saya membayar kesalahan teman-teman saya. Semua ini seperti lelucon," keluhnya kepada media Turki, Sabah, dalam kisah yang kemudian diberitakan BBC, Sky News, Daily Sabah, dan puluhan media internasional lainnya.
The funny moment came when the team called out his name. "Beyhan Mutlu!" the team shouted. "Oh, that's me!" Mutlu answered instinctively — and only then did he realize that the person the SAR team was searching for was himself. Everyone burst out laughing, and Mutlu was eventually escorted home safe and sound. Interestingly, his surname, Mutlu, actually means "happy" in Turkish. "I basically paid for my friends' mistake. This is all like a joke," he told Turkish outlet Sabah, in a story later reported by the BBC, Sky News, Daily Sabah, and dozens of other international media outlets.
Dua peristiwa ini — yang satu bisa berujung tragedi, yang satu berakhir tawa — sejatinya berbicara tentang hal yang sama: hilangnya kesadaran situasi. Di Bondowoso, kesadaran itu terkikis oleh medan yang tidak dikenali dan rencana yang terlalu dipaksakan. Di Turki, kesadaran itu terkikis oleh pengaruh alkohol dan ponsel baru yang membuatnya tak bisa dihubungi. Dalam kedua kasus, orang-orang yang tidak siap akhirnya menyeret tim SAR turun ke lapangan — dengan risiko nyawa di medan yang tidak bersahabat.
These two events — one that could end in tragedy, one that ended in laughter — are ultimately about the same thing: a loss of situational awareness. In Bondowoso, that awareness eroded through unfamiliar terrain and an overly forced plan. In Türkiye, it eroded through the influence of alcohol and a new phone that left him unreachable. In both cases, unprepared individuals ended up drawing SAR teams into the field — with life at risk on unforgiving terrain.
Dari sinilah pesan kampanye keselamatan FMI menjadi relevan. Rencanakan perjalanan dengan matang sebelum berangkat. Gunakan perlengkapan yang memadai, bukan sekadar peralatan yang ada. Patuhi informasi dari pengelola jalur, termasuk larangan dan kondisi medan. Pastikan kondisi fisik dan mental benar-benar prima — dan jangan ragu menunda pendakian apabila kondisi tidak memungkinkan. Kepada pendaki yang baru memulai, belajarlah dari pendaki berpengalaman; kepada yang berpengalaman, jangan biarkan kepercayaan diri menutup mata terhadap risiko.
This is where FMI's safety campaign message becomes relevant. Plan the trip thoroughly before departing. Use adequate gear, not just whatever equipment is on hand. Heed information from trail managers, including restrictions and terrain conditions. Make sure physical and mental condition are truly fit — and don't hesitate to postpone a climb if conditions don't allow it. For climbers just starting out, learn from experienced climbers; for the experienced, don't let confidence blind you to risk.
Sementara doa dan harapan mengiringi pencarian dua pendaki di Gunung Piramid, kisah Beyhan Mutlu menjadi pengingat ringan bahwa keberuntungan tidak boleh dijadikan standar keselamatan. Alam bebas tidak pernah berkompromi, dan lelucon terbaik adalah lelucon yang tidak pernah mempertaruhkan nyawa.
As prayers and hope accompany the search for the two climbers on Mount Piramid, Beyhan Mutlu's story serves as a lighter reminder that luck should never be the standard for safety. The wilderness never compromises, and the best joke is one that never gambles with a life.