Pada 6 Februari 2023, dua gempa beruntun bermagnitudo 7,7 dan 7,6 mengguncang wilayah Kahramanmaraş di tenggara Turki, hanya berselang sekitar sembilan jam. Guncangan itu menghantam sebelas provinsi dan berdampak langsung pada hampir 14 juta orang. Pemerintah Turki mencatatnya sebagai bencana alam paling merusak dalam sejarah modern negeri itu — sebuah peristiwa yang kemudian dikenang sebagai "Bencana Abad Ini" — dengan taksiran kerugian ekonomi mencapai ratusan miliar dolar.

On February 6, 2023, two consecutive earthquakes of magnitude 7.7 and 7.6 struck the Kahramanmaraş region in southeastern Türkiye, only about nine hours apart. The tremors hit eleven provinces and directly affected nearly 14 million people. The Turkish government recorded it as the most destructive natural disaster in the country's modern history — an event later remembered as the "Disaster of the Century" — with estimated economic losses reaching hundreds of billions of dollars.

Tiga tahun berselang, gambaran wilayah itu berubah. Hingga awal 2026, pemerintah Turki telah menyerahkan lebih dari 350.000 unit hunian kepada warga terdampak, bagian dari salah satu program rekonstruksi pascabencana terbesar dalam sejarah negeri itu, dengan target keseluruhan sekitar 455.000 rumah dan tempat usaha. Rumah sakit baru dibangun, sementara jaringan listrik, jalur kereta, jalan tol, dan bandara yang rusak menjalani perbaikan berskala besar. Sejumlah distrik yang dulu rata dengan tanah kini berdiri kembali.

Three years on, the picture of the region has changed. As of early 2026, the Turkish government had handed over more than 350,000 housing units to affected residents, part of one of the largest post-disaster reconstruction programs in the country's history, with an overall target of around 455,000 homes and workplaces. New hospitals have been built, while damaged power grids, rail lines, highways, and airports have undergone large-scale repair. Entire districts once leveled to the ground now stand again.

Kawasan itu bukan nama yang asing bagi FMI. Saat gempa terjadi pada awal 2023, sejumlah pengurus federasi turut bergerak dalam gelombang respons kemanusiaan ke lokasi terdampak — Widodo dan dr. Iqbal, Sp.B, berada di Kahramanmaraş, sementara dr. Putro S. Muhammad berada di Hatay, dua provinsi yang termasuk paling hancur. Belakangan, anggota FMI Jawa Barat Amar Haidar berkesempatan menyaksikan langsung wajah kawasan yang sama dalam kondisinya yang kini jauh berbeda, memberi gambaran dari perspektif kebencanaan tentang panjangnya jalan pemulihan.

The region is not an unfamiliar name for FMI. When the earthquake struck in early 2023, several of the federation's figures joined the wave of humanitarian response to the affected areas — Widodo and dr. Iqbal, Sp.B, were in Kahramanmaraş, while dr. Putro S. Muhammad was in Hatay, two of the hardest-hit provinces. More recently, West Java FMI member Amar Haidar had the chance to see the same region firsthand in its now very different condition, offering a view from a disaster-management perspective on the long road to recovery.

Sebab pemulihan itu memang belum tuntas. Menurut laporan resmi awal 2026, sekitar 360.000 orang masih tinggal di hunian kontainer yang semula dimaksudkan sebagai solusi darurat, tetapi kini berkembang menjadi permukiman semi-permanen. Tingkat pengangguran di provinsi terdampak masih tinggi dan pendapatan warga belum kembali ke rata-rata nasional. Pemulihan fisik, dengan kata lain, berjalan lebih cepat daripada pemulihan sosial-ekonomi.

For the recovery is indeed far from complete. According to official reports in early 2026, some 360,000 people were still living in container housing originally intended as an emergency solution but which has since grown into semi-permanent settlements. Unemployment in the affected provinces remains high, and residents' incomes have not returned to the national average. Physical recovery, in other words, has moved faster than social and economic recovery.

Bagi komunitas pendaki dan penggiat kebencanaan di Indonesia — negara yang sama-sama berada di kawasan rawan gempa — perkembangan di Turki menyimpan pelajaran. Kecepatan respons pada jam-jam pertama, ketahanan bangunan terhadap guncangan, dan panjangnya jalan menuju pemulihan penuh adalah hal yang relevan untuk kesiapsiagaan di dalam negeri. Isu kebencanaan sendiri merupakan salah satu pilar yang diusung FMI dalam program kerjanya.

For climbers and disaster-response practitioners in Indonesia — a country that likewise sits in an earthquake-prone region — the developments in Türkiye hold lessons. The speed of response in the first hours, the resilience of buildings against tremors, and the long road to full recovery are all relevant to preparedness at home. Disaster management itself is one of the pillars FMI carries in its work program.