Pada 1 Juli 2026 — tepat di Hari Kanada — pendaki Kanada-Belarus Liliya Ianovskaia berdiri di puncak Nanga Parbat (8.126 m), Pakistan, pada pukul 06.50 waktu setempat. Pada usia 66 tahun, ia resmi menjadi wanita tertua dalam sejarah tercatat yang berhasil mencapai puncak "Gunung Pembunuh" tersebut. Pencapaian ini sekaligus menjadi puncak kedelapan ribuan ke-11 dari 14 yang ia targetkan sepanjang hidupnya.

On July 1, 2026 — Canada Day — Belarusian-Canadian climber Liliya Ianovskaia stood atop Nanga Parbat (8,126 m) in Pakistan at 6:50 a.m. local time. At 66 years old, she became the oldest woman in recorded history to reach the summit of the "Killer Mountain." The ascent marks her eleventh of the world's fourteen 8,000-metre peaks.

Perjalanan Ianovskaia menuju puncak-puncak dunia dimulai terlambat, namun penuh tekad. Ia lahir di Ivenets, Belarus, dibesarkan di Minsk, lalu beremigrasi ke Kanada pada akhir 1990-an. Ia baru memulai pendakian gunung di usia 50 tahun — jauh melewati usia awal sebagian besar atlet ketinggian tinggi. Namun ketelatannya justru membuahkan rentetan rekor luar biasa: wanita tertua yang mendaki K2 (2022), Dhaulagiri (2023), Annapurna I (2025), Kangchenjunga (2026), dan kini Nanga Parbat (2026). Ia juga pemegang dua Guinness World Records, termasuk wanita tertua yang menuntaskan double Everest–K2 dalam satu musim.

Ianovskaia's journey to the world's highest summits began late but unfolded with remarkable determination. Born in Ivenets, Belarus, and raised in Minsk, she immigrated to Canada in the late 1990s and only took up mountaineering at the age of 50 — long past the typical start of a high-altitude career. Yet that late start has produced a string of milestone records: oldest woman on K2 (2022), Dhaulagiri (2023), Annapurna I (2025), Kangchenjunga (2026), and now Nanga Parbat (2026). She also holds two Guinness World Records, including the oldest woman to complete the Everest–K2 double in a single season.

Pendakian Nanga Parbat kali ini ditempuh via Jalur Kinshofer di sisi Diamir — rute standar komersial — bersama tim ekspedisi 8K Expeditions yang dipandu Dawa Ongju Sherpa. Nanga Parbat adalah puncak paling barat Himalaya dan salah satu yang paling mematikan: puluhan pendaki gugur di lerengnya sebelum pendakian pertama berhasil dilakukan pada 1953. Musim komersial di sisi Diamir kini hampir berakhir, menjadikan summit Ianovskaia salah satu yang terakhir musim ini di jalur tersebut.

The Nanga Parbat ascent was completed via the Kinshofer Route on the Diamir side — the standard commercial route — with the 8K Expeditions team led by guide Dawa Ongju Sherpa. Nanga Parbat is the westernmost major peak of the Himalaya and one of its deadliest; scores of climbers perished on its slopes before the first successful ascent in 1953. The commercial season on the Diamir side is now drawing to a close, making Ianovskaia's summit among the last on this route this year.

Tiga puncak delapan-ribuan masih menunggu di daftar Ianovskaia: Gasherbrum I, Broad Peak, dan Shishapangma. Di puncak Nanga Parbat, ia mengibarkan bendera Kanada berdampingan dengan bendera merah-putih-merah Belarus — tradisi yang ia jaga di setiap summit. "Berdiri di puncak Nanga Parbat dengan bendera Kanada di Hari Kanada berarti segalanya bagiku. Kanada memberi saya kesempatan untuk menjadi siapa saya hari ini," ujarnya usai pendakian. Kisahnya menjadi pengingat kuat bahwa dalam alpinisme, usia bukan penghalang — melainkan modal pengalaman yang tak tergantikan.

Three eight-thousanders remain on Ianovskaia's list: Gasherbrum I, Broad Peak, and Shishapangma. On the summit, she raised the Canadian flag alongside the historic white-red-white flag of Belarus — a personal tradition she has maintained at every high-altitude summit. "To stand on the summit of Nanga Parbat with the Canadian flag on Canada Day means everything to me. Canada gave me the chance to become who I am," she said after the climb. Her story stands as a powerful reminder that in alpinism, age is not a barrier — it is an accumulation of irreplaceable experience.