Enam tahun lalu, di sebuah ruangan di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, dua pemimpin organisasi mountaineering Indonesia mengangkat pena di tengah pandemi yang sedang memuncak. Malam itu, 10 September 2020, Federasi Mountaineering Indonesia (FMI) dan Asosiasi Pemandu Gunung Indonesia (APGI) meresmikan Nota Kesepahaman (MoU) yang dinilai menjadi tonggak baru sinergi dunia pendakian nasional.

Six years ago, in a room in the Kebayoran Baru area of South Jakarta, two leaders of Indonesian mountaineering organizations picked up their pens in the midst of a raging pandemic. That evening, September 10, 2020, the Federasi Mountaineering Indonesia (FMI) and the Asosiasi Pemandu Gunung Indonesia (APGI) formalized a Memorandum of Understanding (MoU) now regarded as a new milestone in the synergy of Indonesia's national mountaineering world.

Ketua Umum PB FMI saat itu, Mayjen TNI Mar (Purn.) Buyung Lalana, dan Ketua Umum DPP APGI Cecilia Enny Yashita — atau yang akrab disapa Mbak Vita — membubuhkan tanda tangan di atas perjanjian yang mencakup lima bidang utama: peningkatan kapasitas kelembagaan dan SDM, pengembangan kegiatan pendakian, kepemanduan gunung, wisata pendakian, pemberdayaan masyarakat sekitar kawasan gunung, hingga pengembangan media informasi.

The then-Chairman of PB FMI, Maj. Gen. (Ret.) Buyung Lalana of the Marine Corps, and DPP APGI Chairperson Cecilia Enny Yashita — widely known as Mbak Vita — signed an agreement covering five key areas: institutional and human resource capacity building, development of mountaineering activities, mountain guiding, trekking tourism, community empowerment around mountain areas, and media development.

"Serta, ini menjadi babak baru bagi kedua belah pihak untuk dapat mendorong kegiatan pendakian gunung sebagai hobi dan profesi ke arah yang lebih positif."

"This marks a new chapter for both parties to drive mountaineering activities — as both a hobby and a profession — in a more positive direction."

— Buyung Lalana, Ketua Umum PB FMI (2020), dikutip detikTravelChairman of PB FMI (2020), as quoted by detikTravel

Kolaborasi ini bukan sekadar formalitas kertas. FMI sebagai wadah nasional pendaki dan APGI sebagai organisasi profesi pemandu gunung memiliki irisan misi yang dalam — keduanya sama-sama menginginkan pendakian Indonesia yang aman, nyaman, dan bertanggung jawab. Ketua Harian PB FMI Rahmat Abbas menegaskan bahwa banyaknya kesamaan visi itulah yang membuat sinergi dua lembaga ini menjadi logis, bahkan mendesak.

This collaboration was more than a paper formality. FMI as the national umbrella body for mountaineers and APGI as the professional organization for mountain guides share a deep overlap in mission — both seek a safe, comfortable, and responsible mountaineering culture in Indonesia. PB FMI's Daily Chairman Rahmat Abbas emphasized that it was precisely the breadth of their shared vision that made this synergy not just logical, but urgent.

Bila kita menoleh ke belakang, MoU ini lahir pada momen yang tidak mudah. Gunung-gunung masih ditutup. Komunitas pendaki menahan napas. Justru di situlah FMI dan APGI memilih untuk membangun pondasi — bukan menunggu situasi normal, tetapi menyiapkan ekosistem untuk masa depan pendakian yang lebih profesional.

Looking back, this MoU was forged at a difficult moment. Mountains were still closed. The hiking community held its breath. Yet it was precisely then that FMI and APGI chose to build foundations — not to wait for normal times, but to prepare the ecosystem for a more professional future of mountaineering.

Hari ini, enam tahun kemudian, ekosistem itu mulai terlihat hasilnya. Standar kepemanduan berkembang, pendakian semakin terregulasi, dan kolaborasi lintas organisasi menjadi norma — bukan pengecualian. Sinergi FMI–APGI 2020 adalah salah satu batu bata pertama yang menopang bangunan itu.

Today, six years on, that ecosystem is beginning to show results. Guiding standards have evolved, mountaineering is increasingly regulated, and cross-organization collaboration has become the norm — not the exception. The 2020 FMI–APGI partnership is one of the first bricks that helped build this structure.

Sumber asli: detikTravel, 12 September 2020. Artikel ini merupakan tinjauan retrospektif yang ditulis oleh tim editorial Berita FMI pada Juni 2026. Original source: detikTravel, September 12, 2020. This article is a retrospective review written by the Berita FMI editorial team in June 2026.