Pada 20 Mei 2026, pukul 08.16 waktu Nepal, Rustam Nabiev — mantan penerjun payung Rusia yang kehilangan kedua kakinya akibat keruntuhan barak militer pada 2015 — berhasil menginjak puncak Gunung Everest (8.848,86 m). Yang membuat pencapaian ini luar biasa bukan sekadar ketinggiannya, melainkan caranya: tanpa prostetik, tanpa kaki, hanya dengan kekuatan kedua lengan dan es kapak.

On May 20, 2026, at 8:16 AM Nepal time, Rustam Nabiev — a former Russian paratrooper who lost both legs in a military barracks collapse in 2015 — stood atop Mount Everest (8,848.86 m). What made this achievement extraordinary was not merely the altitude, but the method: no prosthetics, no legs, only the strength of both arms and ice axes.

Nabiev meluncurkan ekspedisi ini tepat pada hari ulang tahunnya yang ke-34. Di mana pendaki biasa membutuhkan tiga hingga empat hari untuk push puncak terakhir, ia membutuhkan sekitar seminggu penuh dengan upaya yang melelahkan. Video dirinya mendaki tangga-tangga logam yang dipasang di atas Khumbu Icefall hanya dengan kedua tangannya menjadi viral di seluruh dunia. Lintasan itu saja membutuhkan waktu 15 jam baginya untuk diselesaikan.

Nabiev launched the expedition on his 34th birthday. Where a typical climber takes three to four days for the final summit push, he required approximately a full week of exhausting effort. A video of him traversing the metal ladders installed above the Khumbu Icefall using only his arms went viral worldwide. That section alone took him 15 hours to complete.

Tantangan tidak berhenti di puncak. Bagi Rustam, turun justru lebih berbahaya. "Saya justru lebih fokus pada turun daripada naik. Tanpa kaki, turun sangat menyakitkan secara fisik dan mental. Saya harus terus menahan tubuh dengan tangan agar tidak tergelincir di dinding es dan bebatuan," ujarnya kepada Kantipur saat di Kathmandu setelah ekspedisi. Perjalanan dari Camp 3 ke Camp 4 saja memakan waktu lebih dari 14 jam.

The challenge did not end at the summit. For Rustam, the descent was more dangerous. "I focused more on the descent than the ascent. Without legs, going down was extremely painful, both physically and mentally. I had to constantly hold my body back with my hands to avoid slipping on ice walls and rocks," he told Kantipur in Kathmandu after the expedition. The journey from Camp 3 to Camp 4 alone took more than 14 hours.

"Untuk pertama kalinya dalam sejarah mountaineering, untuk pertama kalinya dalam sejarah manusia, saya, Rustam Nabiev, mencapai puncak Everest hanya dengan menggunakan kedua tangan saya!"

"For the first time in the history of mountaineering, for the first time in human history, I, Rustam Nabiev, reached the summit of Everest using only my arms!"

— Rustam Nabiev, Pendaki Everest 2026, via InstagramEverest Summiteer 2026, via Instagram

Di balik rekor, ada kisah manusia yang lebih dalam. Saat di Lukla, Nepal, seorang gadis kecil menghampirinya di jalan, memandangnya, lalu menciumnya di pipi. "Bagi saya, ciuman itu seperti berkah," kenang Rustam. Motivasi terbesarnya selama pendakian adalah sebuah gambar dan surat dari putri sulungnya, Sofia, yang berusia delapan tahun. Isi surat itu: "Papa-ku akan menaklukkan Everest dengan kekuatan kedua tangannya." Lima Sherpa berpengalaman mendampinginya sepanjang ekspedisi — dua selalu menemaninya, satu memantau kadar oksigennya. Ekspedisi dikelola oleh Seven Summit Club.

Behind the record lies a deeper human story. While in Lukla, Nepal, a little girl approached him on the street, looked at him, and kissed him on the cheek. "For me, that kiss was like a blessing," Rustam recalled. His greatest motivation throughout the climb was a drawing and a letter from his eight-year-old daughter Sofia, which read: "My papa will conquer Everest using the strength of his two arms." Five experienced Sherpas accompanied him throughout the expedition — two always by his side, one monitoring his oxygen levels. The expedition was managed by the Seven Summit Club.

Pencapaian Rustam melampaui rekor pendaki amputee sebelumnya. Pada Mei 2023, Hari Budha Magar — mantan tentara Gurkha yang kehilangan kedua kaki di bawah lutut akibat perang di Afghanistan — mendaki Everest dengan kaki prostetik. Rustam melangkah lebih jauh: tanpa prostetik sama sekali. Kini, target berikutnya adalah tujuh puncak tertinggi di tujuh benua (Seven Summits). Ia hanya menyisakan tiga puncak lagi, termasuk di Amerika Utara dan Australia/Oseania.

Rustam's achievement surpasses the previous amputee record. In May 2023, Hari Budha Magar — a former Gurkha soldier who lost both legs below the knee in the Afghan war — climbed Everest using prosthetic legs. Rustam went further: without any prosthetics at all. His next target is the Seven Summits — the highest peaks on all seven continents. He has only three remaining, including those in North America and Australia/Oceania.

Pesan yang ia bawa bukan hanya untuk penyandang disabilitas. "Pesan saya bukan hanya untuk orang dengan disabilitas; ini untuk semua orang. Kita semua menghadapi situasi sulit di suatu titik," ujarnya. "Bahkan jika kamu jatuh, kamu bisa bangkit lagi. Seseorang bisa mencapai puncak tertinggi dalam hidupnya — dan puncak itu tidak harus sebuah gunung. Kuncinya adalah menemukan tujuan yang menghidupkan kembali makna hidupmu." Dalam dunia pendakian internasional, Everest 2026 musim semi akan dikenang bukan hanya karena rekor jumlah pendaki, tetapi karena kisah Rustam — bukti bahwa batas fisik manusia jauh lebih luas dari yang kita bayangkan.

The message he carries is not only for people with disabilities. "My message is not only for people with disabilities; it is for everyone. We all face difficult situations at some point," he said. "Even if you fall, you can rise again. A person can reach the highest peak in their life, and that peak does not necessarily have to be a mountain. The key is to find a goal that brings you back to life and makes it meaningful again." In the world of international mountaineering, the 2026 spring Everest season will be remembered not just for its record number of climbers, but for Rustam's story — proof that the limits of the human body are far wider than we imagine.